Seperti tahun-tahun sebelumnya, ujian fisika asuhan Pak
Winarso menjadi sesuatu yang angker. Selain pelajarannya penuh intrik
rumus-rumus yang bikin dahi mengkerut, hari itu Pak Winarso sendiri yang akan
menjadi pengawas ujian. Maklum saja, beliau ingin tahu seberapa jauh anak-anak
asuhannya tersenyum mengerjakan soal-soal ujian, padahal biasanya yang menjadi
pengawas adalah guru BP atau staf TU sedangkan Pak Winarso hanya datang untuk
menengok. Ketajaman mata Pak Winarso sudah teruji di dua belas kelas di SMA
Satu Cisangkela meski beliau punya masalah rabun jauh. Bahkan, pendengaran
beliau lebih peka dari perasaan perempuan saat kedua telinganya memakai hearing
aid buatan Swedia. Beliau jarang tersenyum ketika tidak memakai gigi palsu,
Rolex klasik-nya membuat beliau selalu tiba tepat waktu. Itu juga yang membuat Pak
Winarso terkenal dan disegani pula di dua puluh SMA di tujuh kota.